Kedamaian Hati Orang Tua, Kunci Kebahagiaan Anak: Refleksi Maulid Nabi di Majlis Taklim Bina Muslim Purwakarta
Dalam perjalanan mengasuh anak, tidak jarang orang tua merasa lelah, kehilangan arah, bahkan terjebak dalam kecemasan yang tidak berkesudahan. Tuntutan zaman yang terus berubah, ekspektasi lingkungan sekitar, serta bayang-bayang masa lalu kerap menjadi beban yang menghimpit dada.
Namun, di balik semua itu, tersimpan satu pertanyaan mendasar yang jarang kita renungkan: benarkah kebahagiaan anak berawal dari kedamaian hati orang tuanya?
Pertanyaan inilah yang menjadi benang merah dari rangkaian kajian parenting yang digelar Yayasan Bina Muslim Purwakarta dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabiulawal 1448 Hijriah. Acara berlangsung di Gedung Yudhistira, Nagri Kidul, Purwakarta, pada Selasa, 25 Agustus 2026, bertepatan dengan hari libur nasional peringatan Maulid Nabi.
Satu Peringatan, Dua Momentum Penting
Berbeda dari peringatan tahun-tahun sebelumnya, kegiatan kali ini tidak hanya menghadirkan siraman rohani, tetapi juga menandai lahirnya sebuah wadah baru bagi syiar keagamaan dan pembinaan umat di Purwakarta. Pada kesempatan tersebut, Yayasan Bina Muslim resmi meluncurkan Majelis Taklim Bina Muslim Purwakarta sekaligus melantik pengurusnya untuk periode 2026–2028.
Terbuka bagi orang tua murid, alumni, hingga masyarakat umum, acara ini mengusung tema kajian parenting yang menyentuh langsung realitas keluarga modern: "Peaceful Parents: Orang Tua yang Mengasuh Anak dengan Lapang Dada". Tema ini dibawakan oleh Ustaz Sonny Abi Kim, seorang life coach sekaligus Co-Founder PPA Institute, yang mengajak para peserta merenungkan kembali makna sesungguhnya dari mendampingi tumbuh kembang anak—dengan meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam membangun rumah tangga yang harmonis.
"Jika Anda Ingin Anak Bahagia, Anda Dahulu yang Harus Bahagia"
Mengawali paparannya, Coach Sonny mengutip sebuah kalimat sederhana namun mendalam dari Christine Carter, PhD:
"If you want your children to be happy… you go first"
Kutipan tersebut, yang dapat dimaknai sebagai "jika Anda ingin anak-anak Anda bahagia, Anda dahulu yang harus bahagia", menjadi pijakan utama seluruh materi yang disampaikan. Menurut beliau, emosi orang tua pada dasarnya bersifat menular. Anak-anak bukan hanya meniru perilaku, tetapi juga menyerap energi emosional yang hadir di rumah.
Orang tua yang dipenuhi tekanan dan kekhawatiran cenderung menciptakan suasana rumah yang tegang, sementara orang tua yang tenang dan bahagia akan memberikan rasa aman yang dibutuhkan anak untuk tumbuh secara optimal. Dengan kata lain, sebelum mengajarkan kebahagiaan kepada anak, orang tua terlebih dahulu perlu menemukannya dalam diri sendiri.
Menemukan Kedamaian Lewat "Inner Game"
Pertanyaannya kemudian, bagaimana caranya menjadi orang tua yang tenang di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang serba cepat ini? Menurut Coach Sonny, jawabannya terletak pada kemampuan mengelola dunia batin, atau yang beliau sebut sebagai inner game.
Dari paparan yang disampaikan, terdapat tiga kunci utama yang dapat dilatih agar hati senantiasa lapang dalam mengasuh anak.
1. Berdamai dengan Masa Lalu dan Masa Depan
Langkah pertama adalah melepaskan beban yang selama ini dipikul, baik berupa trauma pengasuhan di masa kecil maupun penyesalan atas kesalahan yang pernah dilakukan. Di sisi lain, kekhawatiran berlebihan terhadap masa depan pun perlu dihentikan. Dengan meyakini bahwa setiap peristiwa menyimpan hikmahnya sendiri, orang tua dapat berangsur-angsur menemukan ketenangan bahwa segala sesuatu, pada akhirnya, akan berjalan baik.
2. Menghargai dan Mensyukuri Hari Ini
Tanpa disadari, banyak orang tua terlalu larut memikirkan kekurangan anak atau persoalan yang sedang dihadapi, hingga lupa mensyukuri momen-momen kecil yang sesungguhnya berharga. Coach Sonny mengajak para peserta untuk mempraktikkan mindful parenting—hidup sepenuhnya di masa kini. Kesehatan anak, tawa mereka, dan kesempatan untuk belajar bersama adalah karunia yang sering luput dari perhatian. Padahal, rasa syukur adalah jalan tercepat untuk mengundang kebahagiaan ke dalam hati.
3. Berdamai dengan Pandangan Manusia
Salah satu sumber stres terbesar bagi orang tua adalah kekhawatiran akan penilaian orang lain. "Apakah saya sudah menjadi orang tua yang baik?" atau "Apa kata tetangga jika anak saya tantrum di depan umum?"—pertanyaan semacam ini kerap menghantui tanpa disadari.
Menurut Coach Sonny, kuncinya adalah memutus ketergantungan terhadap penilaian manusia dan mengembalikan orientasi pengasuhan sepenuhnya kepada ridha Allah SWT. Ketika mengasuh anak dijadikan sebagai bentuk ibadah, pandangan miring dari luar tidak lagi memiliki kuasa untuk menggoyahkan kedamaian hati.
Menutup dengan Harapan Baru
Melalui peringatan Maulid Nabi kali ini, Yayasan Bina Muslim Purwakarta tidak sekadar mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai keteladanan beliau dalam konteks yang sangat dekat dengan keseharian: rumah tangga dan pengasuhan anak. Dengan hadirnya Majelis Taklim Bina Muslim Purwakarta sebagai wadah baru pembinaan umat, semangat berbagi ilmu dan menguatkan keluarga diharapkan dapat terus berlanjut, membawa manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Purwakarta.