Pendidikan Yang Tidak Berhenti di Nilai Rapor
Ada satu pertanyaan yang hampir selalu muncul, cepat atau lambat, dalam benak setiap orang tua: anak saya nanti akan menjadi pintar, tapi akan menjadi pribadi seperti apa?
Pertanyaan itu tidak muncul dari kekhawatiran berlebihan. Ia muncul karena orang tua tahu, nilai ujian bisa dikejar dengan les tambahan, tapi kejujuran, kesabaran, dan kedekatan dengan Allah tidak bisa dibeli lewat bimbingan belajar. Di titik inilah kami di Al-Bina Purwakarta selalu kembali bertanya pada diri sendiri: pendidikan seperti apa yang sebenarnya sedang kami selenggarakan?
Bukan soal kurang program
Hampir semua sekolah, termasuk yang bukan sekolah Islam, punya mata pelajaran agama. Ada jam mengaji, ada hafalan surat pendek, ada ujian praktik ibadah. Tapi kami belajar dari pengalaman hampir dua dekade mendampingi keluarga di Purwakarta: persoalannya bukan pada ada atau tidaknya program semacam itu. Persoalannya adalah, ke mana nilai itu pergi setelah jam pelajaran selesai.
Anak bisa hafal ayat dengan fasih di kelas, lalu berebut mainan tanpa mengingat adab berbagi begitu bel istirahat berbunyi. Bukan karena anak itu nakal, tapi karena yang ia pelajari baru sampai di kepala, belum turun menjadi kebiasaan. Dan pendidikan yang hanya sampai di kepala, cepat atau lambat, akan mudah luntur begitu anak meninggalkan sekolah.
Karena itu, sejak berdiri pada 2007, kami memilih arah yang tidak selalu mudah: menghadirkan Al-Qur'an bukan sebagai mata pelajaran, melainkan sebagai ruh yang ikut mewarnai cara anak berpikir, beribadah, bermain, mencoba, gagal, dan bangkit kembali. Bukan hafalan yang berhenti di lisan, tapi nilai yang ikut menuntun keputusan kecil anak sehari-hari — saat ia memilih jujur meski tidak ada yang mengawasi, atau memilih sabar meski sedang kesal.
Jawaban yang selalu saya dengar
Ada satu kebiasaan yang saya lakukan bertahun-tahun tanpa berencana: setiap kali bertemu orang tua murid, saya suka bertanya, kenapa memilih menyekolahkan anaknya di Al-Bina. Dan yang menarik, jawabannya hampir selalu senada, meski yang menjawab orang yang berbeda-beda.
Mereka bilang, mereka melihat perubahan dalam akhlak dan kebiasaan anak-anak mereka, bahkan ketika berada di rumah dan lingkungan yang jauh dari sekolah. Ada yang menyebut soal guru-gurunya yang sederhana dan ramah. Ada yang menyebut cara berpakaian anak-anaknya, yang rapi dan menutup aurat dengan baik, bahkan di luar jam sekolah.
Saya tidak pernah meminta mereka menjawab seperti itu. Tapi mendengar pola jawaban yang sama, dari orang yang tidak saling kenal, membuat saya percaya bahwa nilai yang kami coba tanamkan memang sampai ke tempat yang seharusnya — bukan hanya di buku rapor, tapi di rumah, ketika tidak ada guru yang mengawasi.
Satu jawaban yang tidak pernah saya lupa
Suatu kali saya bertemu seorang bapak, waktu itu kami sama-sama sedang menunggu anak kami pulang sekolah, di sekitar pelataran masjid kami duduk bersama. Bapak itu bukan orang yang berkecukupan dari sisi materi, penghasilannya pun tidak bisa dibilang besar. Tapi semangatnya mengantar dan menjemput anaknya ke sekolah setiap hari selalu membuat saya penasaran. Saya bertanya, kenapa Bapak begitu bersemangat?
Jawabannya sederhana, tapi menghujam sampai sekarang. Ia bilang, kelak di akhirat ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk dirinya sendiri. Harapannya cuma satu: dari hafalan Al-Qur'an anaknya, kelak ia akan dibuatkan rumah dari cahaya, dan diberi mahkota dari cahaya.
Saya masih ingat betul bagaimana saya terdiam mendengarnya. Bapak itu tidak sedang bicara soal masa depan karier anaknya, atau sekolah lanjutan yang bergengsi. Ia bicara soal sesuatu yang jauh lebih besar dari itu, dan ia menaruh seluruh harapannya di sana. Percakapan singkat itu selalu jadi pengingat bagi saya, bahwa apa yang kami kerjakan di Al-Bina, bagi sebagian orang tua, adalah harapan yang paling dalam yang mereka punya.
Tiga hal yang kami tuju, bukan tiga kata yang kami tempel
Kami sering menyebut cita-cita ini dengan tiga kata: sholeh, cerdas, kuat. Tapi tiga kata ini akan kosong kalau hanya jadi slogan di brosur.
Sholeh, bagi kami, terlihat dari hal-hal kecil: anak yang berhenti bermain saat mendengar azan, bukan karena dipaksa, tapi karena sudah terbiasa. Cerdas, bukan sekadar nilai matematika yang tinggi, melainkan anak yang berani bertanya, mau mencoba cara lain saat cara pertama gagal, dan tidak takut salah. Kuat, terlihat dari anak yang bisa menyelesaikan konfliknya sendiri dengan teman tanpa selalu menunggu orang dewasa turun tangan, yang bertanggung jawab atas barang dan tugasnya sendiri.
Ketiganya tidak berdiri sendiri-sendiri. Anak yang sholeh tapi tidak dilatih berpikir, akan kesulitan menghadapi dunia yang terus berubah. Anak yang cerdas tapi tidak kuat imannya, mudah kehilangan arah begitu dihadapkan pada pilihan yang rumit. Anak yang kuat tapi tidak sholeh, bisa saja tumbuh menjadi pribadi yang tangguh tapi keras kepala. Ketiganya perlu tumbuh bersama, dan itu butuh waktu — tidak bisa dicapai dalam satu semester atau satu program unggulan.
Kenapa sekolah saja tidak cukup
Salah satu hal yang kami sadari sejak lama: pembentukan nilai yang terputus-putus tidak akan bertahan. Anak yang mendapat pembinaan akhlak yang kuat di SD, tapi kemudian pindah ke lingkungan yang berbeda nilainya di jenjang berikutnya, sering kehilangan pijakan justru di usia yang paling rentan — remaja awal.
Karena itu kami membangun jenjang Sekolah Islam Terpadu — SDIT dan SMPIT — yang saling menyambung, dengan budaya dan nilai yang sama, agar anak tidak harus memulai dari nol setiap kali naik jenjang. Di luar sekolah, ada Rumah Bina Qur'an sebagai ruang bagi anak-anak dan masyarakat umum untuk belajar tahsin dan tahfidz tanpa harus menjadi murid kami, ada Majelis Taklim Bina Muslim sebagai forum kajian rutin bagi orang tua. Semua ini bukan pelengkap. Ini adalah cara kami menjaga agar nilai yang ditanamkan di kelas tidak berhenti di gerbang sekolah.
Bagian yang paling sering terlewat: rumah
Ada satu hal yang perlu kami akui dengan jujur: sekolah, seberapa pun baik niatnya, tidak bisa mendidik anak sendirian. Enam sampai delapan jam anak berada di sekolah, sisanya ia habiskan di rumah dan lingkungan sekitar. Kalau nilai yang dibangun di sekolah tidak disambung di rumah, ia akan mudah pudar.
Saya merasakan sendiri bagaimana rasanya ketika hal itu benar-benar terjadi di rumah. Anak-anak saya tidak saya perintah untuk sholat. Begitu mendengar adzan, mereka sudah otomatis berhenti lalu melaksanakan shalat. Anak perempuan saya, sejak masih SD, sudah menjaga auratnya sendiri — tidak mau keluar rumah tanpa hijab, padahal di usia itu ia belum diwajibkan menutupnya. Tidak ada yang memaksa. Itu yang membuat saya, sebagai orang tua sekaligus pengelola pendidikan, benar-benar percaya bahwa nilai yang tumbuh dari kesadaran memang terasa berbeda dari nilai yang tumbuh dari kepatuhan semata.
Karena itu, kami tidak memandang orang tua sebagai pihak yang menitipkan anak lalu menunggu hasil di akhir tahun ajaran. Kami memandang orang tua sebagai mitra yang sama-sama bertanggung jawab. Forum kajian keislaman yang kami buka bukan formalitas administratif, tapi ruang agar orang tua juga terus tumbuh — karena anak lebih mudah belajar kejujuran dari orang tua yang jujur, bukan dari nasihat yang diucapkan tanpa dicontohkan.
Sebuah proses, bukan produk jadi
Kami tidak akan mengatakan bahwa apa yang kami jalankan sudah sempurna. Membentuk anak yang sholeh, cerdas, dan kuat adalah pekerjaan yang tidak pernah selesai dalam satu generasi, apalagi satu tahun ajaran. Ada anak yang butuh waktu lebih lama untuk menemukan kepercayaan dirinya. Ada nilai yang perlu diulang berkali-kali sebelum benar-benar melekat. Itu bagian dari prosesnya, dan kami memilih untuk tetap sabar menjalaninya.
Saya kadang membayangkan bapak yang saya temui itu, dan berharap ia benar-benar mendapati apa yang ia harapkan kelak. Bukan karena kami merasa berjasa mewujudkannya, tapi karena harapan sebesar itu, yang dititipkan seorang ayah sederhana kepada sekolah tempat anaknya belajar, seharusnya memang dijaga sepenuh hati — sama seperti kami menjaga harapan setiap orang tua yang menitipkan anaknya kepada kami, siapa pun mereka.
Salam Hormat dan Takdzim dari kami,